Featured Article
Minggu, 26 Maret 2017
Minggu, 08 Januari 2017
Jumat, 23 Desember 2016
Review Jurnal Internasional
Mata
Kuliah Metodologi Penelitian
Oleh
Fakhrurroji Ananda Panggabean 33414905
REVIEW
JURNAL
Penulis : Barbara Bigliardi
Tahun : 2010
Judul : Sucessful new product
development in the food packagingindustry : Evidence from a case study
Jurnal : Journal of Engineering, science
and Technology
Latar
Belakang
Inovasi secara luas sudah diakui baik dari segi
akademis dan manajer, sebagai syarat mendasar dari sebuah perusahaan untuk
terus berkembang dalam menghadapi persaingan saat ini dan sebagai salah satu
pendorong utama keberhasilan jangka panjang perusahaan. Alasannya adalah bahwa
perusahaan-perusahaan yang inovatif akan mampu menanggapi tantangan lingkungan
lebih cepat dan lebih baik daripada yang tidak mengambangkan inovasi atau
non-inovatif Oleh karena itu, organisasi telah dipaksa untuk merangkul inovasi
sebagai bagian integral dan strategi perusahaan mereka dan untuk menawarkan
produk yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan untuk menciptakan keunggulan
kompetitif yang berkelanjutan serta tetap di depan dalam persaingan.
Senin, 06 Juni 2016
Studi Kasus Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)
"REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -
Tak bisa dipungkiri, banyaknya mall yang menjual VCD, DVD, dan Blueray bajakan
semakin merajalela. Bahkan di setiap mal Jakarta dan sekitarnya hampir tidak
ada yang tidak menjual kaset bajakan. Hak cipta yang dibajak berupa film, video
game, dan software.
"Untuk memberantasnya, saat ini kami sedang menggalakkan tindakan represif," ujar Ahmad Mujahid Ramli, Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual kepada media, Rabu (25/4), saat konferensi pers usai pemusnahan barang bukti pembajakan hak cipta di halaman kantor HKI, Tangerang.
"Untuk memberantasnya, saat ini kami sedang menggalakkan tindakan represif," ujar Ahmad Mujahid Ramli, Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual kepada media, Rabu (25/4), saat konferensi pers usai pemusnahan barang bukti pembajakan hak cipta di halaman kantor HKI, Tangerang.
Senin, 25 April 2016
HAKI (Hak Kekayaan Intelektual)
Apakah itu HAKI (Hak kekayaan Intelektual) ?
HAKI
atau Hak Milik Intelektual adalah adalah hak untuk menikmati secara ekonomi
hasil suatu kreativitas intelektual. Objek yang diatur dalam HKI adalah
karya-karya yang timbul atau lahir karena kemampuan intelektual manusia.
Atau hak
hukum yang bersifat eksklusif yang dimiliki para penemu baik individu maupun
organisasi tertentu sebagai hasil kreatifitas dan aktifitas intelektual mereka
yang mempunyai ciri khas dan sesuatu yang baru.
Selasa, 05 Januari 2016
PELAPISAN SOSIAL DAN KESAMAAN DERAJAT
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Stratifikasi sosial atau pelapisan sosial adalah perbedaan individu atau kelompok dalam masyarakat yang menempatkan seseorang pada kelas-kelas sosial sosial yang berbeda-beda secara hierarki dan memberikan hak serta kewajiban yang berbeda-beda pula antara individu pada suatu lapisan sosial lainnya.
Dalam hal ini, stratifikasi sosial terbentuk dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat. Pada dasarnya stratifikasi sosial terbagi atas persamaan derajat yang dimiliki oleh suatu kelompok hingga membentuk lapisan sosial di masyarakat.
Stratifikasi sosial sendiri memiliki sifat positif di masyarakat, contohnya adalah stratifikasi sosial yang sengaja dibentuk untuk tujuan bersama. Stratifikasi yang sengaja disusun untuk mencapai tujuan tertentu biasanya berkaitan dengan wewenang dan pembagian kekuasaan resmi dalam organisasi formal atau politik.
Akhir-akhir ini sering timbul pertikaian karena perbedaan-perbedaan kecil yang sedikit menyinggung masalah sosial dan juga kesamaan derajat. Maka kami sebagai mahasiswa memiliki bentuk kepedulian untuk memberikan kontribusi ini minimal dengan menyusun makalah yang berkaitan dengan berbagai pengetahuan akan Pelapisan Sosial dan Kesamaan Derajat.
Jumat, 11 Desember 2015
Negara yang Mendominasi Ekonomi Dunia
Negara-negara yang mendominasi perekonomian dunia berkomitmen menggapai satu tujuan yakni meningkatkan pertumbuhan dan lapangan pekerjaan.
Namun, komitmen tersebut dinilai abu-abu karena setiap negara menetapkan kebijakan berbeda sesuai ambisi dan kepentingan negaranya.
Hal tersebut terungkap saat para wakil negara-negara yang mendominasi perekonomian dunia, seperti Jepang, Amerika Serikat (AS), Jerman menggelar pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung akhir pekan ini.
Ketua International Monetary Fund (IMF), Tharman Shanmugaratnam mengatakan, kebijakan yang dikeluarkan memang tidak sepenuhnya ampuh mengatasi krisis yang terjadi. Namun dinilai setidaknya ada fokus yang lebih kuat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi maupun lapangan pekerjaan.
Setelah sepekan menggelar pertemuan, masih ada pertanyaan besar berkecamuk di tengah kondisi ekonomi global yang belum pulih, seperti kebijakan fiskal antara satu negara dengan lainnya, dan efektivitas dari stimulus moneter.
"Tidak ada suatu strategi yang bisa membawa dunia untuk mencicipi pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan supaya bisa normal kembali," kata dia menanggapi mandeknya konsensus antar negara-negara dengan perekonomian terbesar tersebut, seperti dilansir dalam laman CNN, Minggu (21/4/2013).
Jepang misalnya, menghadiri pertemuan tersebut dan khawatir akan mendapatkan kritikan tajam akibat langkah Bank Sentral negaranya yang menggandakan pembelian surat utang, sehingga membanjiri pasar dengan Yen dan membuat nilai tukar mata uang tersebut jatuh.
Menteri Keuangan Brazil, Guido Mantega menuturkan, pelonggaran kebijakan moneter Jepang dilakukan karena terjadi 'perang mata uang' antara negara-negara berkembang.
"Tokyo merevitalisasi kebijakan sebagai langkah baru dan berani untuk pertumbuhan ekonomi berdasarkan stimulus fiskal dan moneter serta reformasi struktural," jelasnya.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS, Jack Lew mengaku, kecewa dengan lemahnya permintaan dari negara Eropa. Sebab, dorongan permintaan yang kuat dari Eropa sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi dunia.
"Negara-negara yang mencatatkan perdagangan surplus, seperti China dan Jerman diperlukan untuk membantu keseimbangan global, karena pertumbuhan ekonomi ditopang permintaan kuat dan fleksibilitas nilai tukar," urai dia.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Jerman mengungkapkan, risiko terganjalnya pertumbuhan berasal dari melebarnya defisit fiskal di negara maju, seperti AS.
"Menunda penyesuaian kebijakan akan semakin memperburuk risiko terhadap prospek pemulihan ekonomi dunia," ujarnya.
Seolah tidak mau disalahkan, AS justru mengklaim telah menghilangkan kerasnya komitmen untuk menstabilkan utang dalam pertemuan G20.
Namun pernyataan tersebut dibantah delegasi Eropa yang menyebut justru terjadi perdebatan sengit antara AS dan Jerman yang tidak dapat diselesaikan pada pertemuan G20.
Menteri Keuangan Korea Selatan, Hyun Seok Oh bersikeras anjloknya harga Yen menjadi keprihatinan dan mendesak Jepang untuk mencari jalan keluar dengan kebijakan moneter lain.
Menanggapi kekhawatiran ini, IMF sepakat membentuk struktur kerja baru tentang bagaimana negara-negara maju bisa keluar dari jerat pelonggaran kebijakan moneter.
"Dua fokus utama, yakni stimulus moneter bukan saja untuk ekonomi pasar berkembang, serta mencari solusi bila terjadi kemandekan stimulus ini," pungkas Direktur Pelaksana IMF, Christine Lagarde. (Fik/Nur)
Sumber:
http://bisnis.liputan6.com/read/567089/negara-yang-mendominasi-ekonomi-dunia-janji-dorong-pertumbuhannya
Namun, komitmen tersebut dinilai abu-abu karena setiap negara menetapkan kebijakan berbeda sesuai ambisi dan kepentingan negaranya.
Hal tersebut terungkap saat para wakil negara-negara yang mendominasi perekonomian dunia, seperti Jepang, Amerika Serikat (AS), Jerman menggelar pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung akhir pekan ini.
Ketua International Monetary Fund (IMF), Tharman Shanmugaratnam mengatakan, kebijakan yang dikeluarkan memang tidak sepenuhnya ampuh mengatasi krisis yang terjadi. Namun dinilai setidaknya ada fokus yang lebih kuat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi maupun lapangan pekerjaan.
Setelah sepekan menggelar pertemuan, masih ada pertanyaan besar berkecamuk di tengah kondisi ekonomi global yang belum pulih, seperti kebijakan fiskal antara satu negara dengan lainnya, dan efektivitas dari stimulus moneter.
"Tidak ada suatu strategi yang bisa membawa dunia untuk mencicipi pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan supaya bisa normal kembali," kata dia menanggapi mandeknya konsensus antar negara-negara dengan perekonomian terbesar tersebut, seperti dilansir dalam laman CNN, Minggu (21/4/2013).
Jepang misalnya, menghadiri pertemuan tersebut dan khawatir akan mendapatkan kritikan tajam akibat langkah Bank Sentral negaranya yang menggandakan pembelian surat utang, sehingga membanjiri pasar dengan Yen dan membuat nilai tukar mata uang tersebut jatuh.
Menteri Keuangan Brazil, Guido Mantega menuturkan, pelonggaran kebijakan moneter Jepang dilakukan karena terjadi 'perang mata uang' antara negara-negara berkembang.
"Tokyo merevitalisasi kebijakan sebagai langkah baru dan berani untuk pertumbuhan ekonomi berdasarkan stimulus fiskal dan moneter serta reformasi struktural," jelasnya.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS, Jack Lew mengaku, kecewa dengan lemahnya permintaan dari negara Eropa. Sebab, dorongan permintaan yang kuat dari Eropa sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi dunia.
"Negara-negara yang mencatatkan perdagangan surplus, seperti China dan Jerman diperlukan untuk membantu keseimbangan global, karena pertumbuhan ekonomi ditopang permintaan kuat dan fleksibilitas nilai tukar," urai dia.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Jerman mengungkapkan, risiko terganjalnya pertumbuhan berasal dari melebarnya defisit fiskal di negara maju, seperti AS.
"Menunda penyesuaian kebijakan akan semakin memperburuk risiko terhadap prospek pemulihan ekonomi dunia," ujarnya.
Seolah tidak mau disalahkan, AS justru mengklaim telah menghilangkan kerasnya komitmen untuk menstabilkan utang dalam pertemuan G20.
Namun pernyataan tersebut dibantah delegasi Eropa yang menyebut justru terjadi perdebatan sengit antara AS dan Jerman yang tidak dapat diselesaikan pada pertemuan G20.
Menteri Keuangan Korea Selatan, Hyun Seok Oh bersikeras anjloknya harga Yen menjadi keprihatinan dan mendesak Jepang untuk mencari jalan keluar dengan kebijakan moneter lain.
Menanggapi kekhawatiran ini, IMF sepakat membentuk struktur kerja baru tentang bagaimana negara-negara maju bisa keluar dari jerat pelonggaran kebijakan moneter.
"Dua fokus utama, yakni stimulus moneter bukan saja untuk ekonomi pasar berkembang, serta mencari solusi bila terjadi kemandekan stimulus ini," pungkas Direktur Pelaksana IMF, Christine Lagarde. (Fik/Nur)
Sumber:
http://bisnis.liputan6.com/read/567089/negara-yang-mendominasi-ekonomi-dunia-janji-dorong-pertumbuhannya
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
-
Siapa yang tidak tahu tentang Fingerboard atau di Indonesia disebut papan jari dan juga sering disebut FIBO sebuah singkatan dari finge...
-
Sumber daya alam adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan kebutuhan hidup manusia agar hidup leb...
-
Organisasi Professional Organisasi Professional adalah suatu organisasi yang berifat nirbala atau organisasi non profit, yan...
-
1. Latar Belakang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) merupakan cabang ilmu yang harus dikuasai dalam mewujudkan s...
-
Ketersediaan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan dasar, dan tersedianya cukup ruang untuk hidup pada tingkat kestabilan sosia...
-
Mata Kuliah Metodologi Penelitian Oleh Fakhrurroji Ananda Panggabean 33414905 REVIEW JURNAL Penulis : Katarzy...
-
Apakah itu HAKI (Hak kekayaan Intelektual) ? HAKI atau Hak Milik Intelektual adalah adalah hak untuk menikmati secara ekonomi hasil...
-
"REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG - Tak bisa dipungkiri, banyaknya mall yang menjual VCD, DVD, dan Blueray bajakan semakin merajalela. B...







